Arsip Statis : Barong Landung (ratu Gede Landung) Pura Penataran Sima Siladan, Tamanbali, Bangli

  • 07 November 2019
Arsip Statis : Barong Landung (Ratu Gede Landung) Pura Penataran Sima Siladan, Tamanbali, Bangli

Ratu Gede Landung

Pura Penataran Sima Siladan Tamanbali Bangli

( Narasumber : Anak Agung Gede Raka)

 

Tinjauan Sejarah

            Barong Landung merupakan salah satu warisan hasil karya seni yang sejarah kelahiranya bertolak dari kisah cinta dan berlanjut pada hubungan perkawinan raja bali “Jaya Pangus” dengan putri cina “ Kang Cing Wei”. Keberadaan barong landung dibali ada yang berstatus sakral (dikramatkan) dan ada pula profan (hiburan). Namun Barong Landung di pura Penataran Sima sangat disakralkan dan dipuja sebagai istadewata oleh warga masyarakat penyungsung dan pengempon pura. Masyarakat setempat memberi sebutan kepada dewa pujaanya “ Ida Ratu Gede Landung”.

            Menurut penuturan peminpin (dulu) pura, bahwa Ratu Gede Landung pujaanya sudah ada sejak masa silam. Tetapi  karena  kesulitan biaya pemeliharaan (merawat)nya, akhirnya Ida Ratu Gede dipralina (disineb). Yang laki (lanang) disimpan di Pura Gunung Rata dan yang perempuan (isteri) disimpan digedong Pesimpenan Ida Betara Dalem, Pura Penataran Sima. Dalam perjalanan waktu yang tidak ditentukan, suatu ketika yang laki (lanang) menampakan diri pada pada pohon kamboja yang ada di depan pura. Bertolak dari penomena  tersebut, krama pengempon dan penyembah ( penyungsung) pura berkehendak untuk membangun kembali Ratu Gede Barong Landung seperti masa sebelumnya. Upaya revitalisasi dapat diwujudkan pada 29 Maret 2010 dengan membuat pasangan lengkap laki-perempuan (lanang-isteri), dan yang lama (lanang-isteri)  disimpan dalam kantung.  Adapun yang dipercaya sebagai undagi ( pembuat topeng) lengkap dengan tubuh dan hiasnya adalah  “Tjokorda Bagus Artawan”, Puri Tanggu Bangli. Selain memuja Ratu Gede Barong Landung di pura tersebut juga ada tapakan  ‘Ratu Ayu” (rangda).

            Di pura tersebut juga ada beberapa warisan budaya berupa arca-arca dan wujud lainya.  Dua buah arca di antaranya teridentifikasi yaitu tokoh arca laki telanjang kemaluanya diayunkan kekanan, dan yang satu buah lagi tokoh arca wanita telanjang kedua arrca tersebut diletakan di bagian luar palinggih gedong tepatnya dibagian depan sebelah kanan yang wanita dan dibagian depan sebelah kiri yang laki. Apakah ada hubungannya dengan  posisi Ratu Gede Landung Lanang Istri yang disimpan didalam palinggih  Ida Betara Dalem yang juga posisinya sama. Melihat penomena seperti itu sangat menarik untuk dilakukan penelitian.

Bentuk dan Fungsi

            Bentuk (wujud)  Barong Landung di pura Penataran Sima serupa dengan Barong landung lain pada umumnya di Bali. Beberapa tepat yang telah dikunjungi, baik yang memiliki barong Landung sakral maupun profan, sepert :  Koleksi usana ( sampik Kolection) di sukawati, Gianyar (profan); di puraPusering Jagat, Pejeng Gianyar (sakral). Diguru kula, Kecamatan Kubu, Bangli (profan), wujudnya hampir sama yaitu rata-rata matanya dibuat sipit. Letak persamaannya tampak pada bagian wajahnya tepatnya pada mata dan rambut. Matanya semua di dibuat sipit baik laki maupun perempuan. Yanglaki tampak seram dan menakutkan serta yang wanita dibuat dahinya moncong kedepan (dalam bahasa bali: jantuk)  namuntersenyum sehingga wajahnya tampak simpatik. Rambut yang laki hitam dan terurai sedangkan yang perempuan rambutnya tersisir rapi dan diikat dibagian belakang.

Fungsi Ratu Gede landung adalah sebagai media komunikasi dengan Hyang Maha Kuasa untuk memohon keselamatan, kesuburan, dan kedamaian. Kegiatan tersebut dilakukan ketika upacara keagamaan (piodalan)  yang jatuhnya setiap eman bulan(enam bulan bali/210 hari)sekali,tepatnya pada Jumat Pahing Wuku Dungulan. Selain pada hari tersebut permohonan dapat dilakukan dengan mengusung Ida Ratu Barong Landung keliling Desa Siladan setiap  enam bulan sekali tepatnya pada rabu keliwon Pahang ( pegat uwakan). Beliau tidak menari, tetapi setiap lawang (pintu) masuk rumah yang dilewati warga penghuni rumah mempersembahkan sesaji  (canang sari) disertai uang (sesari)  sesuai kemampuan masing-masing. Sebelum beliau diusung keliling desa, diawali dengan persebahan sesaji berupa : pejati,segehan 5 ( lima) pasang, arak berem, dan seekor ayam hitam untuk disambleh (dipotong)bagian bahunya, sehingga persembahan ini dikenal dengan “nyambleh” ayam hitam.

Penari dan Penabuh

Selain permohonan keselamatan dilaksanakan saat upacara keagamaan (piodalan) dan diusung keliling desa setiap enam bulan (enam bulan bali: 210 hari) sekali, Beliau juga menari sambil menyanyi di penataran tempat suci (utama mandala) setiap tahun 410 hari (12 bulan bali) sekali, ketika upacara keagamaan (piodalan) “Nyatur”. Untuk itu dibutuhkan penari, lagu-lagu dan penabuh. Oleh karena  tidak kurang dari 50 tahunan Ratu Gede Landung diprelina, menyebabkan tidak ada kegiatan menari,menyanyi dan menabuh. Sebagai akibatnya terjadi krisis penari dan penabuh. Untuk mengidupkan kembali budaya menari dan menabuh, maka didatangkan pelatih tari dan lagu-lagu dari Desa serai, Kayuambua, Susut, Bangli dan pelatih tabuh A.a. Aji Udara dari Puri Tamanbali, Bangli. Dewasa ini di Dusun Siladan memiliki sedikitnya 4 pasang penari laki-laki untuk mengusung Ratu Gede Landung dan siap dengan lagu-lagunya, serta  satu kelompok penabuh yang rata-rata berusia muda. Dulu (pengurus)  pura selalu mengupayakan agar penari dan penabuhnya diregenerasi, sehingga tetap berkesinambungan secara turun-temurun.

Pengampu, Pemuja dan Upacara Keagaaman

            Ratu Gede landung di Pura Penataran Sima, Siladan, Bangli diampu dan disungsung (dipuja)  oleh warga pengampu Pura yang jumlahnya 42 KK pengarep, 48 KK bale angkep, dan dibantu oleh 40 orang truna truni pengerob. Upacarakeagaman (piodalan) untuk memuja kebesaran beliau jatuhnya setiap enam bulan(enam bulan Bali/210 hari)sekali tepatnmya pada Jumat Pahing Wuku Dungulan. Kegiatan upacaranya dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu : upacara besar (Nyatur) dan upacara kecil ( sederhana) serta dilaksanakan secara silih berganti masing masing setiap 420  hari sekali. (Bidang Pembinaan, pengelolaan dan Pelestarian Kearsipan) 

  • 07 November 2019

Artikel Lainnya

Cari Artikel